Kamis, 20 September 2012

Teknologi Penangkapan Tuna



      Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna (Thunnus spp.) merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada tujuh macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna (long line), tonda (troll line), pancing ulur (handline), pukat cincin (purse seine), huhate (pole and line), jaring insang (gill net) dan payang (pelagic danish seine) (Farid dkk, 1989).
1.  Rawai Tuna (Tuna longline)Rawai tuna atau tuna long line adalah alat penangkap tuna yang      paling efektif. Rawai tuna merupakan suatu sistem rangkaian sejumlah pancing yang dirakit untuk dapat dioperasikan dengan baik menangkap jenis-jenis ikan tertentu. Satu tuna long liner biasanya mengoperasikan 1000-2000 mata pancing untuk sekali turun. Namun, mengingat berbagai faktor biologi ikan sasaran, teknis pemakaian dan pengoperasian alat, komponen alat bantu, kapal yang tersedia, maka dilakukan berbagai penyesuaian.




Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Setelah pancing diturunkan ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan, sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arah arus atau sering disebut drifting. Drifting berlangsung selama kurang lebih empat jam. Selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.



2. Tonda (Troll line)
Tonda adalah pancing yang diberi tali panjang dan ditarik oleh perahu atau kapal. Pancing diberi umpan ikan segar atau umpan palsu yang karena pengaruh tarikan bergerak di dalam air sehingga merangsang ikan buas menyambarnya. Alat ini sangat terkenal dikalangan nelayan Indonesia karena harganya yang relatif murah dan pengoperasiannya sangat mudah untuk menangkap tuna kecil didekat permukaan.






3. Pancing ulur (Hand line)
Alat ini adalah yang paling sederhana diantara alat penangkap tuna. Biasanya hanya terdiri dari pancing, tali, gulungan dan pemberat. Hand line atau pancing ulur dioperasikan pada siang hari. Konstruksi pancing ulur sangat sederhana, pada satu tali pancing utama dirangkaikan 2-10 mata pancing secara vertikal dengan umpan ikan segar seperti ikan layang, kembung, cumi-cumi dan lainnya. Pengoperasian alat ini dibantu menggunakan rumpon sebagai alat pengumpul ikan.




4. Pukat cincin (Purse seine)
Pukat cincin atau purse seine adalah sejenis jaring yang di bagian bawahnya dipasang sejumlah cincin atau gelang besi. Dewasa ini tidak terlalu banyak dilakukan penangkapan tuna dan cakalang menggunakan pukat cincin, kalau pun ada hanya berskala kecil.



Pukat cincin dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring terhadap gerombolan ikan. Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya menarik purse line diantara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring akan membentuk seperti mangkuk. Kecepatan tinggi diperlukan dalam hal ini agar ikan tidak dapat meloloskan diri. Setelah ikan berada di dalam mangkuk jaring, lalu dilakukan pengambilan hasil tangkapan menggunakan serok atau penciduk.



5. Huhate (Pole and line)
Sebagai penangkap ikan alat ini sangat sederhana desainnya, hanya terdiri dari joran, tali dan pancing. Tetapi sesungguhnya cukup komplek karena dalam pengoperasiannya memerlukan umpan hidup untuk merangsang kebiasaan menyambar pada ikan sebelum pemancingan dilakukan serta semprotan air untuk mempengaruhi visilibility ikan terhadap kapal dan para pemancing. Adanya faktor umpan hidup inilah yang membuat cara penangkapan ini menjadi komplek. Hal ini disebabkan karena umpan hidup tersebut dalam ukuran dan jenis tertentu harus ditangkap, disimpan, dipindahkan dan dibawa-bawa dalam keadaan hidup. Ini berarti diperlukan sistem penangkapan umpan hidup, penyimpanannya desain kapal yang sesuai untuk membawa umpan hidup dan cara perawatannya.


6. Jaring insang (Gill net)
Jaring insang atau gill net adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata yang sama di sepanjang jaring. Dinamakan jaring insang karena berdasarkan cara tertangkapnya, ikan terjerat di bagian insangnya pada mata jaring. Ukuran ikan yang tertangkap relatif seragam.
Pengoperasian jaring insang dilakukan secara pasif. Setelah diturunkan ke perairan, kapal dan alat dibiarkan drifting, umumnya berlangsung selama 2-3 jam. Selanjutnya dilakukan pengangkat jaring sambil melepaskan ikan hasil tangkapan ke palka.


7. Payang (Pelagic danish seine)
Payang dapat digolongkan pada pukat kantong permukaan dan/ atau jaring lingkar tanpa tali kerut. Berdasarkan data statistik PPN Prigi 2010 tercatat bahwa terdapat 6 alat penangkap ikan yang dapat menangkap ikan tuna yaitu, jaring insang (gill net), pukat cincin (purse seine), pancing tonda (troll lines), payang (pelagic Danish seine), pancing ulur (hand lines), dan pukat pantai (beach seine).



Sumber:
 http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/2288279-teknologi-penangkapan-ikan/#ixzz271XeFCqJ

1 komentar: